Jumat, 15 Februari 2013

MAKALAH BIOLOGI MACAM - MACAM EVOLUSI

Berbagai macam teori evolusi yang dicetuskan oleh berbagai tokoh, akan menjadi dasar pemikiran tentang evolusi selanjutnya. Proses evolusi dapat dibedakan atas dasar faktor – faktor berikut :
   1.      Evolusi Berdasarkan Arahnya
Berdasarkan arahnya evolusi dibagi menjadi dua, yaitu :
a.      Evolusi Progresif
Evolusi progresif adalah evolusi menuju pada kemungkinan yang dapat bertahan hidup (survival). Contohnya seperti yang terjadi pada burung finch (satu genus dengan burung pipit) di Kepulauan Galapagos yang dulu dipakai Charles Darwin untuk mengembangkan teori evolusi, kini terbukti cocok dengan teori itu, mereka memang berevolusi. Burung-burung finch yang berukuran sedang, yang dulu diteliti Darwin, ternyata perlahan-lahan memperkecil paruhnya untuk mendapatkan aneka jenis biji-bijian. Perubahan ini mulai terjadi sekitar duapuluh tahun setelah kedatangan burung pesaing mereka yang berukuran lebih besar, dan memperebutkan sumber makanan yang sama.
b.      Evolusi Regresif

Evolusi regresif adalah proses menuju pada kemungkinan kepunahan. Hal ini seperti yang terjadi pada dinosaurus. Prof. Michael Rampino dalam Discovery Channel berjudul “Catasthropic Past” menyebutkan bahwa kepunahan Dinosaurus dipicu oleh serbuan dari luar angkasa (meteor). Unsur iridium (hujan asam) yang merupakan unsur langka meteor pun banyak ditemukan di daerah bekas kawah meteor, yaitu sekitar 10 ribu kali lebih banyak dibandingkan kulit bumi yang lain. Menurutnya ini menjadi petunjuk hubungan antara meteor dengan kepunahan binatang besar tersebut
Begitu juga dengan hasil penelitian dari pemenang nobel fisika, Luis Alvarez. Pada tahun 1980, ia pernah memimpin ekspedisi bersama anaknya Walter dan menemukan bahwa awan yang menutupi seluruh permukaan bumi telah menghalangi cahaya matahari bertahun-tahun, yang menyebabkan long winter/musim dingin yang lama dan ikut membinasakan banyak spesies yang ada.
   2. Evolusi Berdasarkan pada Skala Perubahannya
Berdasarkan skala perubahannya, evolusi dibagi menjadi dua, yaitu :
a.      Makroevolusi
Makroevolusi adalah perubahan evolusi yang dapat mengakibatkan perubahan dalam skala besar. Perubahan yang menyebabkan perbedaan yang lebih besar dan nyata diantara golongan taksonomi diatas spesies. Hal ini timbul dari serangkaian panjang kejadian spesies yang masing-masing membawa spesies keturunan makin jauh dari bentuk leluhur asli.
a.      Mikroevolusi
Mikroevolusi adalah perubahan evolusi yang dapat mengakibatkan perubahan dalam skala kecil. Mikroevolusi ini hanya mengarah kepada terjadinya perubahan pada frekuensi gen atau kromosom. Ia juga disebut sebagai "perubahan di bawah tingkat spesies". Perubahan ini disebabkan oleh empat proses yang berbeda: mutasi, seleksi ( baik yang alami maupun buatan ), aliran gen, dan hanyutan genetik. Mikroevolusi dapat dikontraskan dengan makroevolusi, yang merupakan peristiwa terjadinya perubahan skala besar pada frekuensi gen dalam suatu populasi selama periode geologis yang panjang. Perbedaan ini pada dasarnya hanya berbeda pada pendekatan yang dilakukan saja. Mikroevolusi bersifat reduksionis, sedangkan makroevolusi bersifat holistik. 
   3.      Evolusi Berdasarkan Hasil Akhir
a.      Evolusi Divergen
Evolusi divergen adalah proses evolusi yang perubahannya berasal dari satu spesies menjadi banyak banyak spesies baru. Evolusi divergen ditemukan pada peristiwa terdapatnya lima jari pada vetebrata yang berasal dari nenek moyang yang sama dan sekarang dimiliki oleh bangsa primata dan manusia.
b.      Evolusi Konvergen
   Evolusi konvergen adalah proses evolusi yang perubahannya didasarkan pada adanya kesamaan struktur antara dua organ atau organisme pada garis sama dari nenek moyang yang sama. Hal ini dapat ditemukan pada hiu dan lumba – lumba. Ikan hiu dan lumba – lumba terlihat sama seperti organime yang berkerabat dekat, tetapi hiu ternyata termasuk dalam pisces sedangkan ikan lumba – lumba termasuk dalam mamalia. Ekspansi relatif cepat dan diversifikasi dari kelompok organisme berkembang karena mereka beradaptasi dengan relung ekologi baru. Radiasi adaptif adalah proses dimana satu spesies berevolusi menjadi dua atau lebih spesies. Hal ini terjadi sebagai akibat dari populasi yang berbeda menjadi reproduktif terisolasi satu sama lain, biasanya dengan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Pola percabangan evolusi akibat radiasi adaptif dikenal sebagai cladogenesis.



Sabtu, 08 Desember 2012

Mawar, Noda dan Tanaman???

Bunga mawar itu masih berduri
Dan hakekatnya bunga mawar itu tetap berduri
Bagaimana menghilangkan duri itu ???
Bagaimana agar tidak terluka lagi ???

heumm...
menghilangkan duri seperti menghilangkan noda hitam di baju biru
nodanya hitam !
jorok sekali !
Tapi aku suka, karena rasanya luar biasa
saat kita dihadapkan pada sesuatu yang menurut orang "kotor"

Sudahlah..
ibu bilang "ibu susah ngilangin noda di baju kamu itu, jadi kalo main jangan yang kotor-kotor lagi"
Sebagai anak yang baik
Aku hanya bisa pasrah, diam dan tentu saja melaksanakannya
menjauhi sesuatu yang kotor! sesuatu yang aku sukai!
Seperti bermain lumpur di sawah

Tapi tahukah kamu?
Di sawah tempatku bermain sekarang ada banyak tanaman hijau
Membuat mata ini terbuka lebar bahwa masih banyak yang lebih indah
Dari pada bunga mawar dan noda kotor itu

Ada tanaman yang tinggi sekali
Saking tingginya, aku sulit untuk menggapainya
Aku sulit untuk, yaa sekedar memandangnya
karena aku terlalu pendek hingga leherku sakit

Oh iyaah, ada juga tanaman yang pendek, imuut sekali
Ingin rasanya memetik dan memeliharanya
Tapi sayang sekali banyak serangga yang menghuninya
dan serangga itu seraya berkata "jangan dekati tanaman ini, dia milikku"

heuum...
Menyebalkan memang!
Semua yang aku inginkan seperti tidak ditakdirkan untuk terjadi
Semuanya diluar jangkauan!
Hahaha..

Oiyaahh, bagaimana dengan bunga mawar itu ???
Kemarin aku masih merasakan durinya :'(

Minggu, 25 November 2012

Pahlawanku :)


Puisi ini adalah puisi tugas bahasa Indonesia yang minggu kemarin (jum'at, 23 November 2012) saya bacakan di depan teman - teman kelas XII IPA 2

Pahlawanku
Dengarkan aku!
Aku mencintaimu
Aku mengagumimu

Kau ulurkan tanganmu
Saatku terjatuh
Kau usap air mataku
Saatlku tersedu

Pahlawanku
Maafkan aku!
Aku yang tlah mengecewakanmu
Maafkan aku!
Aku yang tlah membuatmu bersedih

Izinkan aku usap peluhmu
Izinkan aku buktikan!
Bahwa aku mampu
Bahwa aku anak kebanggaanmu
Ayahku...

Sabtu, 03 November 2012

Praktikum Ingenhousz Kelompok 5


BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
                        I.            Rancangan Percobaan
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tanaman hydrilla secukupnya, yang di masukkan kedalam corong dan kemudian corong tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi dan bagian bawahnya dimasukkan kedalam gelas kimia yang terisi air yang tidak menghasilkan gelembung.
a)      Tabung A diletakkan di dalam ruangan, kemudian
b)      Tabung A diletakkan di luar ruangan yang terkena sinar matahari
c)      Tabung A dimasukkan es batu secukupnya
d)     Buang air dari tabung A tersebut, ganti yang baru lalu masukkan NaHCO3 2 sendok.
                     II.            Alat dan Bahan
Dalam penelitian ini membutuhkan beberapa alat dan bahannya yaitu :
a)      1 Gelas kimia
b)      1 Tabung reaksi
c)      1 Corong
d)     Kawat penyanggah
e)      Stopwatch
f)       Ember diisi air secukupnya
g)      Lidi
h)      Alat tulis
i)        Es batu secukupnya
j)        NaHCO3
k)      Hydrilla
                     III.            Langkah Kerja
1)      Menyiapkan alat dan bahan
2)      Masukkan tanaman hydrilla secukupnya kedalam corong dengan diikat menggunakan kawat (agar tidak jatuh) dan jangan sampai hydrilla tersebut menyumbat saluran corongnya
3)      Tutup bagian tabung corong dengan tabung reaksi
4)      Masukkan kedalam gelas kimia yang telah diisi air, diharuskan tidak menghasilkan gelembung sedikitpun
5)      Ikat tabung reaksi tersebut dengan lidi yang kuat agar tidak jatuh. Hal ini dilakukan agar posisinya mengapung terhadap gelas reaksi
6)      Amati tabung tersebut di dalam ruangan, jika sudah muncul gelembung hitung banyaknya gelembung per 1 menit sebanyak 5 kali
7)      Setelah 10 menit di dalam ruangan, bawa tabung tersebut ke tempat yang terkena sinar matahari, lalu amati. Jika sudah muncul gelembung, hitung banyaknya gelembung per 1 menit sebanyak 5 kali
8)      Setelah selesai 5 kali hitungan, masukkan es batu secukupnya agar suhunya berubah menjadi seminimum mungkin. Kemudian hitung ulang banyaknya gelembung pada temperature minimum per 1 menit sebanyak 5 kali
9)      Setelah selesai 5 kali hitungan pada temperature minimum, buang airnya. Lalu ganti air tersebut dengan air yang bersuhu normal
10)  Masukkan NaHCO3 ke dalam air baru tersebut, bawa ke tempat yang terkena sinar matahari. Kemudian hitung banyaknya gelembung per 1 menit sebanyak 5 kali
11)  Catat hasil penelitian tersebut, masukkan dalam bentuk table dan grafik


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
I.            Hasil Penelitian
Dalam melakukan percobaan ini, kita mengikuti beberapa tahap seperti yang telah dijelaskan dalam langkah kerja. Untuk dapat membandingkan perbedaan banyaknya gelembung yang dihasilkan maka perangkat percobaan di tempatkan pada dua kondisi yang berbeda yaitu tempat teduh dan tempat terbuka (terkena sinar matahari langsung). Selain di tempatkan di dua kondisi yang berbeda, juga diberi perlakuan yang berbeda. Ada yang ditambahkan dengan NaHCO3 dan ada juga yang ditambahkan dengan es batu.
a)      Tabel hasil penelitian
No.
Tanaman di tempat
Banyaknya Gelombang Menit Ke-
Rata – Rata
1
2
3
4
5
1.
Teduh
0
0
0
0
0
0
2.
Terang
39
29
20
21
22
26.2
3.
Terang + es batu
9
1
1
0
0
2.2
4.
Terang + NaHCO3
0
0
0
3
2
1
b)      Grafik hasil penelitian
 
I.            Pembahasan
Gelembung yang dihasilkan pada percobaan itu merupakan gas oksigen/O2. Gas ini terbentuk karena proses fotolisis dimana air diuraikan menjadi gas oksigen yang akan muncul berupa gelembung-gelembung dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
2H2O → 4H+ + O2.
Dari persamaan tersebut nampak dihasilkan molekul gas O2 dari penguraian air.
Pada tabung yang diletakkan di tempat teduh tidak ditemukan adanya gelembung, hal ini dikarenakan walaupun di dalam air terdapat banyak C02 terlarut tetapi energi yang tersedia (cahaya) untuk melakukan proses fotosintesis oleh Hydrilla sangat sedikit. Sehingga meskipun terdapat banyak bahan baku, namun jika tidak ada energi maka tidak akan memperoleh hasilnya.
Pada tabung yang diletakkan di tempat terang (banyak cahaya matahari) ditemukan banyak gelembung. Hal ini terjadi karena terdapat air yang di dalamnya banyak CO2 terlarut dan mendapatkan energi dari cahaya matahari. Seharusnya gelembung yang terdapat pada tabung ini tidak lebih banyak dari gelembung yang terdapat pada tabung yang ditambahkan NaHCO3 karena NaHCO3 berperan sebagai katalis sehingga mempercepat proses fotosintesis. Namun karena kelompok 5 menambahkan NaHCO3 terlalu sedikit, maka gelembung yang dihasilkannya juga sedikit.
Pada tabung yang diletakkan ditempat terang dan ditambahkan es batu, ternyata gelembung yang dihasilkannya sangat sedikit. Itu berarti proses fotosintesisnya berjalan sangat lambat, hal ini dikarenakan suhu air yang ditambahkan es batu terlalu rendah sehingga enzim – enzim yang berada di dalam reaksi tersebut menjadi tidak aktif.
Dari hasil percobaan, semua tanaman Hydrilla verticillata pada setiap corong mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Gelembung-gelembung ini terkumpul pada dasar tabung reaksi yang dalam keadaan terbalik, sehingga membentuk rongga udara.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
I.       Kesimpulan
Dari penelitian yang sudah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
  1. Proses fotosintesis memerlukan energi cahaya matahari, CO2 dan suhu berpengaruh terhadap kecepatan proses fotosintesis
  2. Faktor intensitas cahaya yang terang (cukup/optimal) akan membuat proses fotosintesis menjadi cepat tetapi bila cahaya yang tersedia sedikit, proses fotosintesis menjadi lambat
  3. Faktor kadar CO2 terlarut yang melimpah akan mengakibatkan proses fotosintesis berjalan dengan cepat karena CO2 merupakan bahan baku dari proses fotosintesis 
  4.  Proses fotosintesis menghasilkan gas oksigen, terbukti dengan adanya gelembung 
  5. Faktor suhu yang rendah akan memperlambat terjadinya proses fotosintesis. Hal ini bukan berarti suhu yang sangat tinggi akan membuat proses fotosintesis menjadi cepat, justru tanamannya akan mati. Suhu yang optimallah yang akan membuat proses fotosintesis menjadi maksimal.
II.    Saran
Setelah penulis melakukan penelitian di atas, penulis memberikan saran kepada pembaca, yaitu :
  1. Sebelum melakukan penelitian, hendaknya sudah menguasai langkah kerja penelitiannya. Agar menghasilkan hasil yang maksimal 
  2. Lakukan penelitian tersebut dengan sangat teliti, agar hasilnya maksimal 
  3. Berhati – hati dalam melakukan penelitian, agar tidak terjadi kesalahan.


DAFTAR PUSTAKA
Arhan. 2009. Laporan Pratikum Fotosintesis. (http://www.smartbekantan.blogspot.com, diakses tanggal 9 September 2009 pukul 16:52)
Arhan. 2009. Percobaan Kecepatan Fotosintesis. (http://www.fithritime.blogspot.com, diakses tanggal 9 September 2009 pukul 16:55)